BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Ngomongin Game, Ngomongin Generasi Bangsa

 

Saat gue masih kecil, gue bareng temen-temen demen banget  maen permainan-permainan tradisional. Gue dan temen-temen main hampir setiap hari. Biasanya mulai main setelah pulang sekolah dan pulang maghrib karena takut kalong wewe. Permainan-permainan seru semacem petak umpet, polisi- maling, sembunyi sandal, kelereng, egrang dan permainan permainan lain bikin gue lupa waktu. Berbeda dengan bulan puasa, di bulan puasa, gue dan temen-temen paling sering maen ludo, maen ular tangga dan monopoli sambil menunggu adzan maghrib. Setelah shalat tarawih, gue dan temen-temen lanjut bermain petasan. Begitulah sedikit gambaran tentang kehidupan anak kecil tahun 90an. Sebuah nostalgia yang membuat gue senyum-senyum sendiri mengingatnya.

Pada tahun 2000an, masyarakat Indonesia mulai kenal sama internet. Tak disangka-sangka perkembanganya semakin cepat. Saat itu masyarakat Indonesia seperti menemukan dunia baru yang mengasyikan. Atas dasar itu, beberapa orang yang memiliki jiwa bisnis, membuka bisnis baru bernama “Warung Internet” atau lebih dikenal dengan istilah Warnet. Jauh sebelum bisnis warnet menjamur, warnet sudah ada namun penggunaanya terbatas untuk jasa pengetikan skripsi mahasiswa-mahasiswa. Seiring berjalannya waktu, Warnet kemudian terbagi menjadi dua jenis, yakni Warnet untuk sekedar berselancar di internet dan Warnet khusus bermain permainan-permainan online. Oh iya, jauh sebelum mengenal permainan berbasis internet,  anak-anak tahun 90an mengenal video game dari rental Playstasion di ujung gang yang pemiliknya biasanya rewel dan galak.

Tahun 2000an itu gue mengenal dan coba menjajal game online semacem Ragnarok, Gunbound, Counter Strike 1.6, Rising Force, Getamped, Dota Allstar dan dan jenis-jenis game online yang lain. Dari situ, muncul istilah baru ngegame bareng di warnet. Karena  warnet itu pula, gue jadi jarang bermain seperti dulu. Alasannya sederhana, bermain game online itu seru dan bisa mengenal orang lain di luar kota.

“Bro, maen game yuk?” kata ajakan itu pasti sudah gak asing lagi kalian denger dari temen-temen di tongkrongan. Dulu, nongkrong lekat dengan istilah ngopi dan ngerokok sambil ngalor ngidul, tapi sekarang gue lebih sering liat orang nongkrong sambil nunduk main game di handphone. Biasanya setelah kita setuju untuk ikut gabung, masing-masing dari kita mengeluarkan handpone. Istilah ngegame atau Game jadi lebih sempit hari ini. Padahal, kata game itu berasal dari  Bahasa Inggris untuk permainan. Entah dari mana asalnya, jika kita bicara tentang game otomatis pikiran kita berlabuh pada Playstasion, PC, atau Handphone.

Anak-anak zaman now alias generasi milenial lebih mengenal video game daripada permainan kelereng. Mereka lebih hapal hero daripada cara bermain egrang. Maksudnya, gue sedikit resah sih dengan banyaknya anak-anak yang menunduk bermain game tanpa banyak bicara dan hanya menggerak-gerakan kedua tangannya sambil duduk ngemil atau minum susu. Tak ada Interaksi dilakukan. Jika kebiasaan ini sudah terjadi sejak dini, itu akan mendorong anak kecil menjadi orang yang anti terhadap kehidupan sosial. Dalam game online pula anak-anak kecil kita belajar berkata-kata yang tidak baik. Terlepas dari bimbingan orang tua, kita tidak bisa mempungkiri hal ini.

Di tengah derasnya perkembangan video game berbasis online, ternyata masih ada sekumpulan orang yan peduli terhadap hal remeh ini, mereka mengenalkan sebuah permainan bernama Warewolf. Warewolf adalah permainan psikologi yang harus dimainkan oleh banyak orang. Permainan mengemukakan pendapat yang akan menumbuhkan interaksi sosial dan merangsang otak berfikir. Warewolf adalah game. Lebih tepatnya Board game. Board game adalah permainan yang harus dilakukan di atas meja dan dibutuhkan orang-orang yang berkumpul di tempat yang sama. Melihat ganasnya pengaruh buruk game online terhadap generasi bangsa,  kehadiran Board Game membuat gue memiliki sedikit harapan. Menurut gue, permainan semacam Warewolf harus di kenalkan sejak dini pada anak-anak untuk merangsang mereka agar terbiasa untuk mengungkapkan pendapat dan mengasah pikiran.

Orang-orang yang peduli dengan generasi bangsa, memperkenalkan Board Game lewat berbagai media. Dengan diperkenalkannya Board Game juga, istilah game kembali meluas. Istilah  yang semula hanya berputar di Playstasion, PC juga Handphone kini kembali pada hakikat permainan, interaksi dan tatap muka.

Hari ini mulai banyak perusahaan-perusahaan yang memproduksi Board Game yang coba memperkenalkan dan menyebarkannya. Contohnya, Manikmaya dan Kompas. Hari ini juga banyak café atau tempat nongkrong yang menyediakan board game sebagai ciri khas tempatnya. Hal ini menjadi kemajuan untuk menyelamatkan generasi, dan kita sebagai masyarakat yang sadar harus ikut membantu seminimal-minimalnya memperkenalkan hal ini pada adik-adik kita. Semoga dengan adanya Board Game, generasi muda Indonesia bisa memiliki pola piker kreatif dan kritis sejak dini.

 

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…