BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Kenalan Yuk, Sama Tukang Cukur Perempuan!

Percaya gak percaya, nilai jual perempuan itu selalu lebih tinggi lho daripada laki-laki. Setidaknya dalam hal jasa. Dulu, tukang cukur atau sekarang lebih tren disebut Capster identik sebagai pekerjaan laki-laki. Tapi seiring arus informasi dan perkembangan zaman yang makin pesat, perempuan berbondong-bondong belajar mencukur karena permintaan yang semakin tinggi.

Di kota Bandung yang terkenal sebagai kota kreatif, tren Capster perempuan dipelopori oleh salah satu Barber shop bernama “Rock N Roll Haircutting” yang berlokasi di Jalan Supratman. Barber shop yang diperuntukkan buat laki-laki tersebut diakui sebagai Barber shop terbaik yang semua Capsternya perempuan.

Sebelum tren Capster perempuan muncul belakangan ini, sejak dulu emang udah ada perempuan yang mencukur rambut, tapi perempuan yang bekerja di salon tersebut mencukur rambut sesama perempuan. Karena alasan itu, saat Capster perempuan di perkenalkan, banyak laki-laki yang gak percaya pada keahlian si Capster. Dibalik ketidakpercayaan itu, banyak juga laki-laki yang jadi penasaran.

Seperti pekerjaan laki-laki lainnya, perempuan yang belajar memangkas rambut laki-laki untuk pertama kalinya pasti dong memiliki kesulitan tersendiri. Kesulitan yang paling tampak dimata biasanya pada teknik mencukur. Tangan-tangan perempuan, tidak terbiasa memegang alat cukur yang bisa dikatakan berat dan bergetar-getar.

Hal lain yang membuat para calon Capster perempuan ini kesulitan adalah mencari “korban” pertama. Tidak banyak laki-laki yang percaya pada orang yang masih belajar menata dan memotong rambut. Kebanyakan dari korban-korban ini mengeluh karena panjangnya durasi mencukur. Jika itu terjadi, korban yang sudah terlalu lama duduk menunggu akan merasa kesal dan pergi begitu saja.

Rasa Kepercayaan pelanggan pada kemampuan Capster perempuan ternyata berpengaruh banget pada hasil potongan rambut. Jika gelagat pelanggan mencerminkan ketidakpercayaan, maka  hasil akhir dari tata rambut akan jelek dan mengecewakan, kebalikannya, jika si pelanggan percaya dan nyaman rambutnya di tata oleh Capster-capster cantik ini, hasilnya akan memuaskan.

Latar belakang Capster ini pastinya beda-beda, tapi di kota Bandung, Capster perempuan identik dengan dunia kesenian. Mereka percaya banget kalo pekerjaan menata dan memotong rambut ini juga seni. Kreativitas dan kesenian menjadi hal yang diutamakan dibanding dengan sekedar mencari rupiah, ini terdengar klise, tapi cerita itu keluar dari mulut mereka.

Tipe-tipe pelanggan pun berbeda-beda, ada sebagian pelanggan yang ingin dilayani oleh perempuan ini dengan tujuan menggoda. Tak sedikit dari mereka yang melecehkan para Capster ini dengan kata-kata. “Teteh ini cantik banget”, “Minta dong nomor HPnya”, “Punya pacar gak teh?” kata-kata semacam itu sering membuat para Capster ini tidak nyaman.

Karena prestasi dan penghargaan yang banyak diraih oleh perempuan, profesi memangkas rambut ini sekarang tidak lagi dipandang sebelah mata. Bayaran untuk “Seni” ini ternyata tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan padahal tata rambut identik dengan penampilan seseorang.

Hari ini, semakin banyak perempuan yang ingin belajar dan terjun ke dunia tata rambut professional. Sayangnya, sekolah formal tata rambut di Indonesia masih sangat jarang dan kalaupun ada biayanya sangatlah tidak masuk di akal. Hair-dresser memang belum merakyat dan tugas itulah yang sekarang diemban para Capster di Indonesia.

Leave your vote

3 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…