BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Fat Velvet : Kami Bukan Kolektif Pemberdayaan Perempuan!

Berawal dari keresahan yang dialami dalam acara-acara public bar, sekelompok perempuan yang bergerak dibidang industri kreatif kota Bandung mendirikan sebuah kolektif yang diberi nama Fat Velvet. Perempuan-perempuan ini melihat dan merasakan ada ketidak seimbangan dalam dunia industri kreatif kota Bandung, terutama terhadap tindakan dan perlakuan pelaku industri terhadap perempuan.

Fat Velvet adalah kolektif yang beranggotakan perempuan-perempuan muda di kota Bandung yang berkegiatan, berkesenian di dunia industri kreatif. Tujuan dibentuknya Fat Velvet sebenarnya untuk menunjukan bahwa perempuan-perempuan yang bekecimpung di industri kreatif  memiliki daya dan mampu bersaing dengan laki-laki.

Kegiatan yang dilakukan Fat Velvet beragam, dari mulai diskusi, workshop dan event-event. Isu yang mereka angkat sama beragamnya, bukan hanya isu perempuan saja. Masalah-masalah dalam keseharian sering mereka sentuh, terutama permasalahan Urban atau merespon Subkultur tertentu.

Permasalahan seperti tatto, literasi, musik, teater selalu menjadi ide-ide fresh yang kelak akan dituangkan melalui karya yang digarap secara kolektif atau bersama-sama.

Karena pergerakannya yang terbilang unik, dalam kacamata orang awam, Fat Velvet menjadi sebuah gerakan millenial yang menarik. Alasannya, di kota Bandung masih sedikit gerakan perempuan yang berfokus pada industri kreatif, mungkin Fat Velvet adalah salah satu pelopornya.

Semakin hari nama Fat Velvet menjadi akrab ditelinga  anak muda dan pekerja industri kreatif kota Bandung. Berbagai respon muncul menanggapi gebrakan baru yang dibawa kolektif perempuan ini, tak jarang banyak orang yang salah mengartikan gerakan mereka.

Anggota-anggota yang tergabung sering mendapat pertanyaan-pertanyaan mendasar yang terkadang bikin senyum sekaligus miris, seperti “Kok namanya Fat tapi orang-orangnya punya body yang bagus menurut pandangan orang banyak?” atau pertanyaan “Fatvelvet itu kolektif perempuan yang demen ngomongin tubuh ya?”  dan ada sekelompok orang yang menganggap mereka adalah perempuan-perempuan feminis di kota Bandung.

Menanggapi anggapan tentang feminisme, menurut pengakuan mereka, beberapa anggota yang tergabung di Fat Velvet secara personal menganut ide-ide feminis, tapi secara kolektif, Fat Velvet bukanlah feminis.

Jikalau publik mengaggap mereka adalah gerakan feminis, mereka tak ada masalah dengan itu, karena hal tersebut sudah menjadi resiko ketika apa yang mereka perbuat diketahui dan dinikmati oleh publik secara luas.

Fat Velvet mengaku mereka mencoba menjadi jembatan antara kaum tua dan generasi muda sekarang, sebab mereka adalah kolektif yang sangat terbuka terhadap masukan dan kritik dari luar. Karena mereka menerapkan itu pada dasar pemikirannya, banyak pihak yang pada akhirnya meminta kolaborasi dengan mereka.

Perlu diingat bahwa Fat Velvet bukanlah kolektif pemberdayaan perempuan, tapi Fat Velvet adalah wadah bagi perempuan-perempuan yang berdaya.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…