BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

ILP: Proyek ‘Garang’ Indra Lesmana

Indra Lesmana, tentu publik mengenalnya sebagai pianis dan maestro musik jazz kebanggaan Indonesia. Putra dedengkot jazz Jack Lesmana ini, sudah malang-melintang di Industri musik Indonesia sejak 40 tahun lalu melalui album perdananya yang dirilis saat berumur 12 tahun berjudul “Ayahku Sahabatku” pada 1978. Semenjak itulah namanya melambung di industri musik, khususnya dalam kategori Jazz. Beberapa album solo, duet, hingga grup telah banyak dihasilkannya hingga hari ini.

Pertengahan tahun 1980-an selepas menimba ilmu dari Australia, pria yang juga dikenal sebagai juri Indonesian Idol ini kembali ke Indonesia dengan tidak hanya melebarkan sayap sebagai pemusik, namun juga sebagai penyanyi. Album “Nostalgia” yang dirilis tahun 1982 adalah debutnya sebagai penyanyi dan bahkan dijalur musik pop. Setelah itu, tanpa disadari Indra membuat album dengan formula sama: sebagai penyanyi dan berada dijalur pop. Pula tidak ketinggalan kolaborasinya dengan Titi DJ dan Sophia Latjuba, serta beberapa grup seperti Krakatau dan JavaJazz bersama Dewa Budjana dan Gilang Ramadhan. Hingga akhirnya, pelantun tembang “Aku Ingin” ini berkomitmen untuk kembali secara total pada musik jazz melalui albumnya berjudul “Reborn” ditahun 2000. Setelah itu, Indra Lesmana membentuk beberapa grup beraliran Jazz, salah satunya adalah LLW bersama bassist Barry Likumahuwa dan drummer Sandy Winarta di awal era 2010-an.

Namun, di tahun 2018 ini, pemusik yang juga bertindak sebagai sound engineer ini kembali mengeluarkan album. Namun yang berbeda adalah, kali ini tidak bergerak di jalur musik Jazz seperti biasanya, melainkan musik Metal! Ya, Indra Lesmana baru saja membentuk sebuah proyek musik bernama Indra Lesmana Project (ILP). Proyek ini awalnya dibentuk sebagai aksi kepedulian terhadap letusan gunung berapi yang sempat melanda Indonesia beberapa waktu lalu, yang kemudian dituangkan dalam bentuk karya musik. Proyek ini bergerak di bidang musik Progressive Metal dengan komposisi anggota band yang tidak main-main!

Proses pencarian anggota untuk ILP dilakukan melalui proses audisi. Uniknya, audisi dilakukan melalui media sosial. Indra Lesmana mengirimkan demo lagu untuk album ILP melalui Instagram, lalu diintrepretasikan masing-masing oleh gitar, drum, dan vokal secara terpisah. Hingga akhirnya terpilihlah masing-masing satu orang gitaris, drummer, dan vokalis untuk project terbaru dari musisi yang saat ini sudah menetap di pulau Bali ini.

Anggota ILP sendiri antara lain adalah Indra Lesmana (keyboard/synthesizer), Karis (guitar), Ray Syarif (guitar), Hata Aryasatya (drum), Ra_got (vocal), serta Shadu Rasjidi (bass). Beberapa nama dalam proyek ini sudah memiliki jam terbang dan pengalaman di area musik cadas, dan bahkan belum pernah sekalipun kolaborasi dengan Indra Lesmana. Salah satunya, Karis, yang sebelumnya dikenal sebagai gitaris grup metal ternama DeadSquad. Terkecuali Shadu Rasjidi, yang selama ini dikenal sebagai bassist jazz dan kerap beberapa kali kolaborasi dengan Indra Lesmana di berbagai kesempatan.

Pada 13 Mei 2018 lalu, ILP baru saja merilis EP dari lagu berjudul “Sacred Geometry”, lagu ini sendiri terbagi kedalam empat bagian, antara lain “Part 1: Awakening”, “Part 2: Acknowledge”, “Part 3: Ascension”, dan “Part 4: Acceptation”. Ada cerita unik dari lagu ini, lagu ini bercerita tentang petualangan dan pencerahan dari sekelompok manusia yang diculik oleh sekelompok alien. Namun cerita tidak berakhir sampai disitu. Akan ada cerita selanjutnya yang nantinya akan disatukan secara utuh pada album penuh (full album) dari ILP  yang rencana akan rilis dalam waktu dekat dalam bentuk vinyl dan CD.

Saat saya mendengarkan ILP, saya teringat dengan beberapa band beraliran progressive rock yang sempat mewarnai industri musik dunia pada era 1970-an seperti Yes, Genesis, Emerson Lake and Palmer, Jethro Tull, dan lain sebagainya. Jika menyebut satu nama musisi ingatan saya akan tertuju kepada Keith Emerson. Baik Indra Lesmana maupun Keith Emerson, mereka sama-sama mengeksplorasi musik dengan bantuan keyboard dan synthesizer dengan partitur nada yang serupa pula. Konon Indra Lesmana juga pernah mengakui bahwa Keith Emerson adalah salah satu inspirasinya dalam bermusik.

Kini debut karya musik ILP telah tersedia di berbagai platform musik digital seperti iTunes dan Spotify sejak 13 Mei lalu. Bagi yang ingin mendengarkan bagaimana seorang Indra Lesmana keluar dari ‘zona nyaman’nya sebagai pemusik jazz, silakan simak album ini!

Leave your vote

1 point
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…