BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Rasialisme adalah Candu Olahraga.

The Ultimate Fighting Championship atau lebih dikenal dengan sebutan UFC, adalah olahraga ajang bela diri campuran. UFC semakin dikenal masyarakat dunia karena kebrutalan saat pertandingan dan konflik serta drama yang ada dalam ajang olahraga tersebut.

Tapi bukan berarti UFC tidak memiliki masalah dalam tiap pertandingannya, selain keselamatan fighter atau petarung, UFC memiliki kebiasaan buruk mempromosikan pertandingan secara bebas dan terkadang menjadi terlalu intimidatif dan berujung pada rasialisme.

Baru-baru ini, UFC digemparkan dengan insiden chaos saat pertandingan UFC Lightweight Champion antara atlet asal Rusia, Khabib Nurmagomedov versus Conor McGregor.

Pertandingan itu sangat menarik karena dua atilt yang bertarung sama-sama memiliki skill dan fanbase yang besar. Kejadian chaos bermula Setelah Khabib menang atas McGregor. Sang champion, Khabib Nurmagomedov terlibat keributan pasca pertandingan dimana dia melompat keluar octagon dan menyerang Dillon Danis, rekan setim dari McGregor. Sementara rekan setim Khabib juga masuk octagon dan menghajar McGregor.

Setelah insiden memalukan tersebut, Khabib angkat bicara. Dia secara personal meminta maaf kepada Komisi Atletik Las Vegas dan juga meminta maaf kepada seluruh rakyat di Nevada atas keributan  yang terjadi di arena MMA. Khabib mengakui kalau insiden tersebut merupakan tingkah buruknya. Tapi Khabib melakukan hal tersebut dengan alasan dia ingin mengubah UFC yang selama ini membiarkan aksi-aksi intimidatif dan menghina hal personal hanya demi serunya jalan pertandingan.

Khabib heran dengan fans yang menyudutkan perbuatannya.  Khabib mengakui dia melompat keluar octagon dan menyerang orang yang tak ada sangkut pautnya dengan pertandingan, namun hal itu karena McGregor dan rekan setimnya mengina orang tua, agama dan negaranya yang menurutnya tak bisa dibiarkan begitu saja.

UFC atau mungkin organisasi MMA seharusnya menjaga kehormatan para atlet. UFC sejatinya adalah organisasi yang  seharusnya mencegah rasisme dalam olahraga, bukan sebaliknya memanfaatkan rasisme menjadi ajang promosi demi rating dan popularitas semata.

Tindakan rasisme ini bukan hanya terjadi saat pertandingan, namun jauh-jauh hari saat masa promosi pertandingan, Misalkan saat Connor menyindir dan menyuruh Khabib minum alkohol. Mungkin bagi Khabib, dia bisa menahan hal intimidatif semacam itu, namun bagi umat muslim seluruh dunia hal itu merupakan penghinaan karena telah masuk pada masalah personal seseorang.

McGregor juga menyebut Ali Abdelaziz, rekan setim Khabib dengan sebutan “Terorrist Snitch” yang semakin memperpanjang stigma bahwa muslim adalah terrorist secara tidak langsung. McGregor mungkin hanya berniat membuat pertandingan lebih seru, tapi dia tidak berfikir perbuatannya telah memperkokoh tembok rasialisme di Amerika, bahkan di Dunia.

Terlepas dari seluruh kompeksitas budaya olahraga UFC, bagaimanapun sikap rasialisme tidak bisa ditolelir karena hal ini telah mencederai kemanusiaan secara global. Olahraga sejatinya menyatukan umat manusia.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…