BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Menelisik Danilla

Dalam beberapa tahun terakhir ini, bisa dikatakan bahwa musik Indonesia mengalami kemajuan yang cukup pesat. Kemajuan yang cukup pesat tersebut ditandai dengan hadirnya pemusik-pemusik baru di industri musik. Terlebih para pemusik tersebut mengedepankan kualitas musik yang terbilang “edan”. Tidak seperti sekitar 10 atau 12 tahun lalu dimana musik pop melayu menguasai industri musik di Indonesia, bahkan media mainstream pun turut dikuasai hadirnya scene musik pop melayu ini.

Satu dekade berlalu, musisi dengan karya musik yang memiliki nilai lebih (dan kebanyakan menempuh jalur independent / indie) mulai memasuki masa kejayaan. Mereka hadir ditengah kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Kemajuan teknologi inilah yang dimanfaatkan sebagai jalur promosi karya-karya mereka dan mendapatkan banyak penggemar.

Salah satu pemusik dengan karya yang bernilai lebih dan menempuh jalur indie adalah Danilla Riyadi. Bisa dikatakan Danilla adalah paket lengkap dalam industri musik saat ini. Dia memiliki paras yang jelita dan didukung oleh suara yang sangat keren. Lagu-lagu yang dibawakan lebih banyak berkutat di Folk-Jazz, dengan sub–genre Bossanova dan Ballad. Bakat menyanyi dara jelita ini nampaknya diturunkan dari sang ibunda Ika Ratih Poespa yang merupakan penyanyi Indonesia era 1980-an.

Album pertama Danilla berjudul “Telisik” beredar tahun 2014 di bawah naungan label indie top DeMajors. Saya pertama kali mendengar album tersebut saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Saat mendengar, secara refleks saya berdecak kagum, “Gila, ya! Ada penyanyi muda berani nyanyi lagu kayak gini..” gumam saya ketika itu. Sebelum mendengar Danilla, saya sudah mendengar White Shoes and The Couples Company. Dimana mereka adalah sekelompok pemusik muda ’hipster’ yang melantunkan lagu-lagu pop Indonesia bernuansa era 1970-an.

Sementara Danilla hadir dengan melantunkan lagu-lagu jazz bernuansa era 1960-an dan 1970-an. Yang ketika mendengarkannya, saya bisa langsung teringat pada Ella Fitzgerald dan Ermy Kullit. Album perdana Danilla termasuk ke dalam list “Album Terbaik Indonesia 2014″ versi majalah RollingStone Indonesia.

Selang tiga tahun berlalu, Danilla mengeluarkan album keduanya berjudul “Lintasan Waktu” di pertengahan tahun 2017. Meskipun masih menawarkan scene musik yang sama seperti di album pertama, entah mengapa saya kurang begitu menikmatinya. Saya lebih menyukai album pertama Danilla dibanding yang terakhir dirilis. Meskipun begitu, saya tetap harus mengakui bahwa album ini memang keren.

Satu hal yang saya suka dari sosok seorang Danilla, adalah sikap dan sifatnya yang terkesan apa adanya dan tidak jaim. Beberapa kali saya lihat lewat sosial medianya, dia tidak malu untuk memperlihatkan ‘aib’ nya terhadap publik. Bahkan melalui salah satu video di channel YouTube, Danilla pernah menggelar sebuah pertunjukkan dimana dia bernyanyi sembari memegang dan menghisap rokok. Satu hal yang tidak pernah saya lihat dilakukan oleh penyanyi-penyanyi baik di dalam maupun luar negeri. Terlebih penyanyi wanita!

Danilla tidak hanya pandai bernyanyi, tetapi dia juga pandai memainkan beberapa instrumen musik seperti gitar, piano, synthesizer, dan accordion. Sekali lagi saya menemukan satu titik cerah bagi industri musik, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…