BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Perawan gak Perawan, Penting Gak Sih?

Stigma kesucian, penilaian kepribadian pada wanita di Indonesia, masih bertumpu pada masalah keperawanan. Pandangan ini dibentuk dan terbentuk oleh berbagai hal. Salah satunya adalah pandangan agama. Kehilangan keperawanan sebelum menikah dianggap aib bagi wanita dan lingkungannya.

Pada tahap selanjutnya, masalah yang sebenarnya adalah masalah domestik wanita ini dicampur tangani kaum pria, bahkan dicampuri negara melalui berbagai institusi-institusinya. Lucu ketika melihat negara mengurusi hal yang privat, mengurusi masalah selangkangan masyarakatnya. Apa buktinya? Test-test keperawanan untuk masuk instansi negara diberlakukan di negara ini

Banyak orang beropini bahwa keperawanan adalah hal yang suci dan mesti dijaga, namun dalam ilmu medis, keperawanan hanyalah selaput dara yang sobek dan pada akhirnya mengeluarkan darah. Opini-opini tentang keperawanan sering diungkapkan dalam obrolan dan candaan sehari-hari yang sebenarnya mempengaruhi perilaku dan pandangan kita terhadap wanita tanpa kita sadari.

“Lihat cara berjalan cewe itu, keliatan banget udah jebolnya”

“Gampangan tuh cewe, pasti udah gak perawan”.

Selaput dara dalam ilmu medis disebukan sangat mudah sobek, selain vagina yang dimasuki benda dan penis, selaput dara berpotensi sobek jika wanita tersebut sering melakukan aktivitas olahraga diantara lain bersepeda, dance dan split. Banyak wanita yang tidak menyadari akan mudahnya kehilangan keperawanan tanpa melakukan hubungan seksual.

Jika wanita saja sulit menyadari, lantas mengapa kaum pria dengan mudah menghakimi dan merendahkan derajat wanita yang sudah tidak lagi perawan?

Sebagai manusia terpelajar, seharusnya kita bisa adil sejak dalam pikiran. Begitu kata mas Pram. Kita jangan mengaggap wanita yang sudah kehilangan keperawanan adalah wanita yang tidak bermoral dan pantas di kucilkan serta direndahkan. Kesucian dan moral seseorang tidak dapat diukur dari selaput dara yang sobek. Ditilik dari sisi manapun, kehilangan keperawanan tidak berdampak pada kepribadian wanita. Jika kita masih memiliki pandangan semacam itu, lantas bagaimana kita menerima wanita korban pemerkosaan? Apakah kita akan menjauhinya? Karena masih banyak korban pemerkosaan yang disalahkan. Perkataan seperti “Pakaiannya terbuka sih, jadi mengundang syahwat” atau “Kalo dia menikmati saat diperkosa, bukan lagi pemerkosaan namanya” masih banyak terlontar dari mulut masyarakat.

Jika satu wanita memberikan kesuciannya kepada pria yang dicintainya sebelum menikah, kita tak bisa menyalahkannya. Karena berbicara cinta sama dengan berbicara masalah keimanan. Tuhan menciptakan rasa cinta agar manusia tahu dan mengerti. Maka kita tidak bisa menghakimi seseorang tanpa tahun apa kejadian yang melatarbelakangi. Jika kita sudah tahu dan mau mendengar, barulah kita boleh bersikap tanpa terjebak stigma dekaden dan konservatif.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…