BANG! Station

Stasiun Streaming Kamu

Pendidikan Alternatif : Jalan Memanusiakan Manusia

Istilah pendidikan progresif atau pendidikan alternatif kembali mencuat di kalangan masyarakat. Pendidikan alternatif dianggap sebagai jalan lain bagi mereka yang tidak mampu menyekolahkan anaknya karena tidak mampu membayar sekolah formal. Namun, bagi sebagian lain, pendidikan alternatif dianggap sebagai respon kekecewaan terhadap sistem pendidikan formal. Sebagaimana kita tahu, terlalu banyak masalah dalam sistem pendidikan formal di Indonesia.

Sebelum kemerdekaan, para pendiri negara ini memiliki cita-cita luhur agar rakyatnya dapat mendapatkan pendidikan sama seperti orang Eropa. Maka mereka membuat sekolah alternatif untuk rakyat pribumi yang tidak diperbolehkan sekolah di sekolah formal milik Belanda. Hal ini dilakukan untuk merespon dan mengkritik sistem kolonial yang hanya memperbolehkan kalangan ningrat mengenyam pendidikan.

 Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh yang membuat sekolah alternatif bernama Taman Siswa. Dalam pemikiranya, Ki Hajar Dewantara berpikir pendidikan tidak seharusnya kaku dan terkungkung dalam tembok seperti sekolah-sekolah formal. Maka sekolah yang ia dirikan bernama Taman Siswa yang pada prakteknya adalah sekolah yang menyenangkan, sekolah yang tidak selalu di dalam kelas yang dapat  mencetak generasi-generasi emas yang maju setelah kemerdekaan. Bahkan pasca kemerdekaan, Tan Malaka membuat Sekolah Rakyat yang diadakan setiap hari di bawah rindang pohon, berpindah dari satu desa ke desa lain.

Hari ini, pendidikan formal mengalami goncangan dan berbagai masalah di banyak sektor. Perundang-undangan yang sudah tidak jelas, wajib belajar, fullday school, kasus asusila, bullying, kompetensi guru dan komersialisasi pendidikan. Namun menurut saya, semua masalah timbul berkaitan dengan sistem ekonomi kapitalisme yang di anut oleh Indonesia, akibatnya bukan kualitas yang dicari, namun orientasinya sudah berupa uang dan uang.

 Sudah berapa banyak siswa yang putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Bahkan menurut data hanya 27% saja rakyat indonesia hari ini yang menikmati bangku kuliah. Sisanya mungkin tidak dapat melanjutkan karena berbagai faktor.

Siswa-siswa hari ini terbebani dengan sistem KKN yang menurut opini saya sudah tidak masuk akal, semua dihitung dengan angka. Proses belajar ini tidak sehat, karena dengan sistem ini pendidikan tidak melihat proses, namun hasil. Maka wajar saja pendidikan sekarang hanya menghasilkan koruptor-koruptor baru.

Bahkan yang lebih parah adalah sistem fullday school yang jika dikaji menggunakan ekonomi-politik , relasi-relasi yang dibangun sangat menindas sekali. Bayangkan siswa diharuskan belajar selama 9 jam dengan rutinitas bangun pagi pergi ke sekolah kemudian sekolah dan belajar, istirahat, belajar hingga sore hari dan pulang. Tidak ada bedanya dengan pekerja di pabrik, bangun pagi pergi ke pabrik, bekerja, istirahat, bekerja lagi hingga sore dan pulang. Apakah ini kebetulan belaka? Atau negara ini memang berniat mencetak pekerja-pekerja baru yang dapat dihisap?

Lantas bagaimana solusinya? Menurut hemat saya, lakukan demokratisasi sejati, biarkan masyarakat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya tanpa harus membayar, runtuhkan sistem kaku pada pendidikan formal ganti dengan sistem pendidikan progresif dan perbaikan kualitas tenaga pengajar.

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Comments

0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

close

Ad Blocker Detected!

Advertisements fund this website. Please disable your adblocking software or whitelist our website.
Thank You!

Hey there!

Forgot password?

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…